About Me

Bunda Zidan & Syifa
Mom with two kids. 32. Tukangjalan. Tukangbelanja. Tukangkue. Tukangroti. Tukangmakan. ;)
YM: inong99
email: inong99@yahoo.com

View my complete profile

Loket Kadeudeuh WSAB
Subscribe with Bloglines

Blog DapurBunda
Blog PuisiBunda

Previous Posts

Archives
Little Break



My Idol 2006


  • Little Chat
    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x
    Credits
    Design by :


    Community

    Photobucket - Video and Image Hosting

    WSAB

    BlogFam Community

    Indonesian Muslim Blogger

    Blogfam Online Magazine

    Image hosted by Photobucket.com

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    IndoSing-Mums


    Powered by Blogger



     Wednesday, April 26, 2006 
    Mari belajar 'membaca'
    Sebenarnya virus-males-nulisus-blogus sedang menjangkiti saya juga. Tidak cuma dia, kamu, dan dia. Tapi juga saya. Bukan, bukan karena nggak ada yang bisa ditulis. Justru karena terlalu banyak dan cukup menjejali otak dan pikiran saya. Hingga untuk dikeluarkan dalam bentuk tulisan pun lumayan bisa bikin ribut karena mereka berebut. Atau mari beramai-ramai kita salahkan PMS. Bukan, bukan Peggy Melati Sukma. Tapi kata teman saya ini Permanent Menstruasi Syndrome. Haha! Jadi saya putuskan untuk tidak menulis tapi membaca.

    Menyebut kata membaca tiba-tiba sekelebat bayangan datang dan hinggap di salah satu saraf di otak saya. Menutup semua pikiran yang lain. Dan memaksakan kehendaknya supaya saya cuma berpikir tentang dia. Entah tentang apa. Katanya, tentang dia.

    Lalu mata saya menemukan sebuah puisi ini di dalam sebuah arsip lama. Sebuah puisi yang juga sudah lama. Aslinya karangan Pablo Neruda, ditulis bukan dalam bahasa Indonesia. Tapi Abang saya yang baik (Hallo Bang Saut!) sempat menerjemahkannya ke dalam bahasa yang bisa lebih saya mengerti dan membuat saya menangis waktu membacanya. Bukan, saya bukan hanya membacanya. Tapi saya ikut merasa. Mengikuti kata demi kata. Menyeka setiap tetes air mata yang mengalir di dalamnya. Tapi itu dulu, pikir saya. Hampir sembilan tahun yang lalu.

    Sungguh saya tidak pernah menduga. Bahwa airmata saya masih bisa menetes ketika saya kembali "membaca" puisi ini. Entah apa atau siapa yang ada di bayangan saya waktu saya mencoba menyimaknya kembali kata per kata. Yang pasti, saya kembali terbawa di dalamnya. Dan saya cuma ingin berbagi kepada orang yang memang bisa membaca-bukan-hanya-membaca puisi ini. Mungkin kamu. Atau dia. Mari kita sama-sama belajar 'membaca'.


    Kalau kau lupakan aku
    (by Pablo Neruda)

    Aku mau kau tahu
    satu hal.

    Kau tahu bagaimana rasanya:
    kalau aku memandang
    bulan kristal, di ranting merah
    musim gugur yang bergerak lambat di jendelaku,
    kalau aku sentuh
    di dekat perapian abu lembut
    atau
    tubuh keriput kayu,
    semuanya membawaku padamu,
    seolah semua yang ada,
    aroma, cahaya, logam,
    adalah kapal kapal kecil
    yang berlayar
    menuju pulau pulaumu yang menungguku itu.

    Jadi, sekarang,
    kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
    aku akan berhenti mencintaimu
    sedikit demi sedikit.

    Kalau tiba tiba
    kau melupakanku
    jangan cari aku,
    karena aku pasti sudah akan melupakanmu.

    Kalau kau pikir panjang dan gila
    angin panji panji
    yang berlalu dalam hidupku,
    dan kau putuskan
    untuk meninggalkanku di pantai hati
    di mana akarku berada,
    ingatlah
    hari itu juga,
    jam itu juga,
    aku akan melepaskan tanganku
    dan akarku akan berlayar
    mencari negeri baru.

    Tapi
    kalau setiap hari,
    setiap jam,
    kau rasa kau memang ditakdirkan
    untukku
    dengan kelembutan yang tak terkira,

    kalau setiap hari
    sebuah bunga naik ke bibirmu mencariku,
    ah sayangku, kekasihku,
    dalam diriku
    semua api itu akan terbalas,
    dalam diriku tak ada yang akan padam atau
    terlupakan,


    cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,
    dan selama kau hidup
    cintaku akan terus dalam rangkulanmu
    tanpa meninggalkanmu



    Apalagi kalau sambil dengar lagu ini.. hiks!

    posted by  on 9:07 PM 
    10 Comments:
    Blogger Gege said...

    Ya Teteh..puisinya menyentuh banget..
    hidungku ikutan panas nih jadinya..
    nusuk perasaan banget dan berasa jadi takut kehilangan...
    10:58 PM  
    Blogger Rani said...

    babe neruda emang cara bertuturnya keren banget, kata2 sederhana bisa jadi dalem banget.. apalagi soneta cintanya.. wow!
    1:34 AM  
    Blogger Ophi said...

    aku juga tak mau kehilanganmu

    ehhh ngomong sama MB teh bukan sama teteh...dah GR aja si bunda..hihihii

    bun, nyeri lutut euy, loba teuing pipindahan. :berita ngga penting:
    2:28 AM  
    Blogger Bunda Raffee said...

    berkaca-kaca nih bacanya...beneran kena banget deh dihati ini puisinya
    10:18 AM  
    Blogger stella said...

    Kiarin teh kamu mau cerita anakmu belajar membaca, Nong. Hehehe....

    Gak kebayang bahasa aslinya, pasti lebih ngena ya, buat yang ngerti. Secara begini aja mengigit banget rasanya.
    4:25 PM  
    Anonymous Principessa said...

    baca sekali...
    dua kali...
    sekali lagi deh...

    Aduh!

    gimana nih kok saya gag ada terharu2nya acan ya bun? waah apa saya orangnya gag bisa 'baca' ya bun?
    5:12 PM  
    Blogger Rara Vebles said...

    Cintaku hidup dari cintamu.. Seneng bisa ikut terharu di blog Bunda.. Salam kenal ya.. Tpi sebenernya aku udah sering ngrumpiin bunda lho.. Itu, sm Eny (sefawkes). Kita sekantor, jd kalo makan siang suka cerita2 recent blog.. Aku link boleh ya..
    5:47 PM  
    Anonymous Cabe Keriting said...

    Mungkin lagi sibuk kali dianya ... bukan bermaksud melupakan kamu, Bun *soktau.com*
    8:07 PM  
    Anonymous Atun said...

    Ini puisi inti sebenernya, menurut gw, ngajarin orang untuk nggak mau rugi, 50-50. Loe cinta gue, gue cinta juga, loe nggak cinta, gue ciao for good. Karena khan banyak tuh orang yang biar udah nggak dicintain, tep ngotot untuk mencintai....
    8:18 PM  
    Blogger retma-haripahargio said...

    Waaaaaaaaaaaaa... Bun. Dikau bener2 tidak sopan deh ah. Si pablo ini kan favoritku! Mana puisinya nongkrong di undangan nikahanku pulak! :)
    10:37 PM  

    Post a Comment

    << Home




    Daisypath Ticker