
Sebenarnya virus-males-nulisus-blogus sedang menjangkiti saya juga. Tidak cuma dia, kamu, dan dia. Tapi juga saya. Bukan, bukan karena nggak ada yang bisa ditulis. Justru karena terlalu banyak dan cukup menjejali otak dan pikiran saya. Hingga untuk dikeluarkan dalam bentuk tulisan pun lumayan bisa bikin ribut karena mereka berebut. Atau mari beramai-ramai kita salahkan PMS. Bukan, bukan Peggy Melati Sukma. Tapi kata teman saya ini Permanent Menstruasi Syndrome. Haha! Jadi saya putuskan untuk tidak menulis tapi membaca.
Menyebut kata membaca tiba-tiba sekelebat bayangan datang dan hinggap di salah satu saraf di otak saya. Menutup semua pikiran yang lain. Dan memaksakan kehendaknya supaya saya cuma berpikir tentang dia. Entah tentang apa. Katanya, tentang dia.
Lalu mata saya menemukan sebuah puisi ini di dalam sebuah arsip lama. Sebuah puisi yang juga sudah lama. Aslinya karangan Pablo Neruda, ditulis bukan dalam bahasa Indonesia. Tapi Abang saya yang baik
(Hallo Bang Saut!) sempat menerjemahkannya ke dalam bahasa yang bisa lebih saya mengerti dan membuat saya menangis waktu membacanya. Bukan, saya bukan hanya membacanya. Tapi saya ikut merasa. Mengikuti kata demi kata. Menyeka setiap tetes air mata yang mengalir di dalamnya. Tapi itu dulu, pikir saya. Hampir sembilan tahun yang lalu.
Sungguh saya tidak pernah menduga. Bahwa airmata saya masih bisa menetes ketika saya kembali "membaca" puisi ini. Entah apa atau siapa yang ada di bayangan saya waktu saya mencoba menyimaknya kembali kata per kata. Yang pasti, saya kembali terbawa di dalamnya. Dan saya cuma ingin berbagi kepada orang yang memang bisa membaca-bukan-hanya-membaca puisi ini. Mungkin kamu. Atau dia. Mari kita sama-sama belajar 'membaca'.
Kalau kau lupakan aku
(by Pablo Neruda)
Aku mau kau tahu
satu hal.
Kau tahu bagaimana rasanya:
kalau aku memandang
bulan kristal, di ranting merah
musim gugur yang bergerak lambat di jendelaku,
kalau aku sentuh
di dekat perapian abu lembut
atau
tubuh keriput kayu,
semuanya membawaku padamu,
seolah semua yang ada,
aroma, cahaya, logam,
adalah kapal kapal kecil
yang berlayar
menuju pulau pulaumu yang menungguku itu.
Jadi, sekarang,
kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
aku akan berhenti mencintaimu
sedikit demi sedikit.
Kalau tiba tiba
kau melupakanku
jangan cari aku,
karena aku pasti sudah akan melupakanmu.
Kalau kau pikir panjang dan gila
angin panji panji
yang berlalu dalam hidupku,
dan kau putuskan
untuk meninggalkanku di pantai hati
di mana akarku berada,
ingatlah
hari itu juga,
jam itu juga,
aku akan melepaskan tanganku
dan akarku akan berlayar
mencari negeri baru.
Tapi
kalau setiap hari,
setiap jam,
kau rasa kau memang ditakdirkan
untukku
dengan kelembutan yang tak terkira,
kalau setiap hari
sebuah bunga naik ke bibirmu mencariku,
ah sayangku, kekasihku,
dalam diriku
semua api itu akan terbalas,
dalam diriku tak ada yang akan padam atau
terlupakan,
cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,
dan selama kau hidup
cintaku akan terus dalam rangkulanmu
tanpa meninggalkanmu
Apalagi kalau sambil dengar lagu ini.. hiks!
Ya Teteh..puisinya menyentuh banget..
hidungku ikutan panas nih jadinya..
nusuk perasaan banget dan berasa jadi takut kehilangan...
10:58 PM
babe neruda emang cara bertuturnya keren banget, kata2 sederhana bisa jadi dalem banget.. apalagi soneta cintanya.. wow!
1:34 AM
aku juga tak mau kehilanganmu
ehhh ngomong sama MB teh bukan sama teteh...dah GR aja si bunda..hihihii
bun, nyeri lutut euy, loba teuing pipindahan. :berita ngga penting:
2:28 AM
berkaca-kaca nih bacanya...beneran kena banget deh dihati ini puisinya
10:18 AM
Kiarin teh kamu mau cerita anakmu belajar membaca, Nong. Hehehe....
Gak kebayang bahasa aslinya, pasti lebih ngena ya, buat yang ngerti. Secara begini aja mengigit banget rasanya.
4:25 PM
baca sekali...
dua kali...
sekali lagi deh...
Aduh!
gimana nih kok saya gag ada terharu2nya acan ya bun? waah apa saya orangnya gag bisa 'baca' ya bun?
5:12 PM
Cintaku hidup dari cintamu.. Seneng bisa ikut terharu di blog Bunda.. Salam kenal ya.. Tpi sebenernya aku udah sering ngrumpiin bunda lho.. Itu, sm Eny (sefawkes). Kita sekantor, jd kalo makan siang suka cerita2 recent blog.. Aku link boleh ya..
5:47 PM
Mungkin lagi sibuk kali dianya ... bukan bermaksud melupakan kamu, Bun *soktau.com*
8:07 PM
Ini puisi inti sebenernya, menurut gw, ngajarin orang untuk nggak mau rugi, 50-50. Loe cinta gue, gue cinta juga, loe nggak cinta, gue ciao for good. Karena khan banyak tuh orang yang biar udah nggak dicintain, tep ngotot untuk mencintai....
8:18 PM
Waaaaaaaaaaaaa... Bun. Dikau bener2 tidak sopan deh ah. Si pablo ini kan favoritku! Mana puisinya nongkrong di undangan nikahanku pulak! :)
10:37 PM
Post a Comment
<< Home