About Me

Bunda Zidan & Syifa
Mom with two kids. 32. Tukangjalan. Tukangbelanja. Tukangkue. Tukangroti. Tukangmakan. ;)
YM: inong99
email: inong99@yahoo.com

View my complete profile

Loket Kadeudeuh WSAB
Subscribe with Bloglines

Blog DapurBunda
Blog PuisiBunda

Previous Posts

Archives
Little Break



My Idol 2006


  • Little Chat
    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x
    Credits
    Design by :


    Community

    Photobucket - Video and Image Hosting

    WSAB

    BlogFam Community

    Indonesian Muslim Blogger

    Blogfam Online Magazine

    Image hosted by Photobucket.com

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    IndoSing-Mums


    Powered by Blogger



     Sunday, April 23, 2006 
    Si Madam Nokiyah Merah
    Percaya nggak kalau sebagian isi hidup kita ada di dalam HP? Betapa HP bisa mengontrol kehidupan kita. Mungkin sebagian dari kalian spontan menyatakan tidak. Tapi percayalah (pliiz..) Bunda sudah mengalaminya sendiri. Dan rasanya? Yiiiaaaiiiksss... teramat sangat tragis dan menyedihkan (dalam arti sesungguhnya!). Begini ceritanya..

    Sabtu, 22 April 2006.

    08.00 am

    (suara hiruk-pikuk rutinitas pagi di dalam rumah)
    Ayah bersiap2 berangkat kantor (Sabtu gitu lho! Hiks), Bunda menjerang air di teko untuk secangkir dua cangkir kopi krim panas di pagi hari, Zidan nonton film Power Rangers, Syifa sarapan roti dengan selai coklat. Sempat SMS Tante Tia untuk ketemuan di Orchard siang nanti.

    "Ayah, pulang sore. Acara Bunda apa hari ini?"
    "Bunda mau ketemu Tia di Orchard. Mau beliin mixer pesanan Nana. Biar sekalian Tia bawa ke aptnya."
    "OK. Hati2 ya."
    "Siip.."

    Ayah berangkat kerja. Bunda menyelesaikan pekerjaan pagi. Anak2 masih sibuk di depan TV. Tapi mereka sudah siap semua.
    "Bundaaa.. mandiiiii...cepeeeet..." Syifa sekarang udah bisa 'merintah' Bundanya untuk mandi lho. Apalagi kalau dia tau kami akan pergi. Setengah terbirit2 Bunda menuruti perintahnya sebelum terdengar teriakan kedua.

    10.00 am

    Bunda mampir di Pasar Gombak sebentar untuk beli ketupat pantyliner pesanan Bimoli Tante Molly. Langsung menuju MRT Bt. Gombak. Liat jam masih jam 10.30. Hmm, sempet mampir ke Poon Huat Sembawang dulu, baru dari situ ke Orchard. Ah sms Tante Tia dulu deh, biar dia siap2 juga... Mmm.. mana sih Si Madam Nokiyah Merah, HP Bunda yang paling setia itu? Bunda ngubek2 isi tas,.. semua ada.. dompet, kacamata, dompet koin, uuuuh mana siiih.. cari di bagian depan, gak ada.. di belakang tas, gak ada juga.. Duuh! Ke mana ya? Jangan ketinggalan dooong, pliiiz... OK, OK, jangan panik. Pelan-pelan. Yakin di tas Bunda gak ada, coba cari di tas Syifa. Susu, pampers, baju, celana, aaah.. gak ada juga. Tas Zidan, baju, celana.. ezlink.. duh, beneran.. K-E-T-I-N-G-G-A-L-A-N!

    Balik lagi? Aduuuh.. males banget deh. Udah sampe sini gitu lho. Bawa anak2 pula. Repoooooot. Maju terus? Nekad? Hmmm.. Bismillah deh. Ntar sampe di Sembawang tinggal telpon Ayah untuk telpon Tante Tia. Lalu Bunda naik kereta sambil sesekali menyesali diri kenapa bisa sampe lupa bawa HP. Suatu hal yang belum pernah terjadi. Sambil mikir, betapa sebagian hidup Bunda tergantung HP itu. Kok bisa? Ya iyalaaah.. coba deh. Di Singapura ini, nomer telpon yang Bunda hafal... iya h-a-f-a-l luar kepala cuma nomer telpon rumah sama nomer HP Ayah. Selainnya? Sama sekali nggak! Tante Wiwid yang hampir tiap hari smsan atau ngobrol di telpon juga gak pernah Bunda hafalin nomernya. Tante Hany? Tante Mela? Oh nooo.. sekian banyak teman2ku di sini, gak ada satu pun yang Bunda inget nomer telpon rumah atau HPnya. Semua memory ada di HP itu. Bahkan alamat pun kadang Bunda tulis atau simpan di messagenya. Mau telpon siapa aja tinggal pencet2 atau ketik2 namanya, kan? Jadi untuk apa dihafal2? Tragis banget kan? Sekarang baru sadar. Coba kalau ada apa2 gimana? Wuiiih ... menyeramkan!

    10.30 am

    Sampai di MRT Sembawang, langsung cari koin untuk telpon Ayah. Baru ngeh, hampir setahun tinggal di Singapura, baru kali ini make telpon umum untuk ngehubungin seseorang. Dan baru tau kalau kita cukup pake koin 10 cents, karena kalau kita masukin $1 atau 50 cents, gak akan dikembaliin walau kita cuma pakai sebentar. Hihihi.. stupid banget deh ih. Gak lama sudah tersambung ke nomer Ayah. Ngomong singkat tapi harus jelas.

    "Ayah? HP Bunda ketinggalan di rumah. Padahal Bunda udah janjian sama Tia mo ketemuan di Orchard siang ini. Tapi tadi Bunda sempat sms ke dia untuk nunggu kabar dari Bunda jam berapa ketemuannya. Jadi Ayah tolong sms atau telpon Tia, bilang Bunda tunggu dia di taxi stand depan Lucky Plaza jam 12 teng! OK?"

    Sip. Untung Ayah masih punya nomer HP Tante Tia. Jadi so far masalah bisa diatasi. Bunda masuk ke Poon Huat untuk belanja bahan2 kue pesanan Tante Coni. Gak sampe 30 menit kemudian, kami semua udah di MRT menuju Orchard.

    11.20 am

    Mixer titipan Tante Nana sudah dibayar. Bunda titip ke kasirnya untuk disimpan di sana sampai Tante Tia datang untuk ambil mixer itu. Jadi Bunda gak perlu berat2 bawa ke rumah. Sepuluh kilo, Bo! Berhubung Zidan udah menyanyikan lagu kelaparan dengan nada-nada sangat sumbang, jadi Bunda putuskan untuk langsung ke Kantin Aneka 2 di lt.6, sekalian beli Ayam Pop yang ada di sana. Nggak sampe 10 menit, Zidan sudah duduk di depan semangkuk Bakso-Malang-Wannabe dan segelas dingin Lipton Tea. Di plastik kresek putih sudah ada tiga porsi Ayam Pop lengkap dengan sambel dan sayur daun singkongnya. Looks yummy, so far.


    11.55 am

    Kita udah berdiri di depan taxi stand Lucky Plaza. Kok gak ada tanda-tanda keberadaan Tante Tia di sana ya? Mata Bunda muter-muter ke sana ke mari. Mencari sosok blio. Ih, kok gak ada ya? Masih di jalan kali ya? Eh, itu ada telpon umum. Untung masih punya beberapa koin 10 cents. Coba telpon Ayah lagi deh.

    "Ayah, tadi udah telpon Tia kan?"
    "Naaah itu dia.. HPnya gak aktif. Ditelfon mailbox terus. Di SMS juga pending. Jadi gimana?"
    *pingsan sekejap*
    "Waduh, gimana ya? Dia pasti pake nomer Starhubnya yang baru. Ayah cuma punya nomer Matrixnya ya? Duh, ini mixer udah Bunda beli. Apa harus Bunda bawa pulang?"
    "Suruh kirim ke apt Tia aja, Bun. Ayah masih ada catetan alamatnya."
    "Tapi mereka gak bisa anter hari ini. Besok juga libur deliverynya. Jadi paling hari Senin. Riskan banget. Tia kan udah mau pulang. Coba Ayah telfon informasi untuk cari nomer telpon aptnya Tia, pake alamatnya aja. Bunda telfon Ayah lima menit lagi ya.."

    Zidan kelihatan bingung ngeliat Bundanya bingung. Duh, matanya itu lho. Hehehe.
    "Are you OK, Mom?"
    "Hmm.. it's fine. I'm OK, Honey."

    lima menit kemudian..

    "Gimana Yah?"
    "Gak dikasih, katanya it's confidential."
    "Hmmm.. coba Ayah cari dia di Y!M, idnya.. tia*****ko@yahoo.com. Bunda telfon Ayah lima menit lagi ya..."

    gak sampe lima menit kemudian..

    "Gimana Yah?"
    "Gak bisa Bun. Gak ada respon. Gak online, kayaknya."
    *kaku seketika*
    "Ya udah lah, mau gimana lagi, terpaksa mixer ini Bunda bawa. OK deh, Bunda pulang aja sekarang."
    "Ya udah, hati2 ya."
    Klik.

    "Kita pulang Bun?"
    "Ya, kita pulang sekarang."
    "Gak jadi beli mainan Abang dong...?"
    "Hmmm.. next week ya Sayang. Mainannya gak ke mana2 kan?"
    "OK, Mom..."
    Duh, maafkan Bunda ya Sayang. Ini semua di luar rencana kita semula.

    empat puluh lima menit kemudian...

    "Ayah, Bunda udah di rumah."
    "Iya, Tia barusan sms Ayah. Rupanya dia pake nomer Singapur. Jadi Matrixnya emang gak aktif. Ayah udah telfon dia kasih tau kejadiannya tadi. Coba Bunda telfon dia lagi."
    "OK.."

    Pencet nomer telfon Tante Tia...82069xxx..

    "Tiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..... Huhuhu..."
    .............
    .............
    .............
    .............
    "Ya ampuun! Pantesaaan! Ya udah lah Teh. Kita janjian besok aja."
    "OK deh, besok jam sebelas di MRT Jurong East ya."
    "OK... daaag."
    Klik.

    SMS ke nomer Tante Nana... +62816480xxxx
    "Nanaaaaa... bla bla bla..."

    Ah, bener-bener.. Mulai hari ini Bunda mau bikin catatan nomer telfon di buku kecil. Kembali lagi kayak jaman dulu. Jaman SMA. Buku telfon kecil. Isinya nomer-nomer penting. Simpan di dalam tas. Ugh! Ya sudah lah, mari nikmati ayam pop yang sudah setengah dingin, dengan sambal hijau yang tidak terlalu pedas, dan sayur daun singkong yang sedikit asin. Ugh!


    "Bun..." Zidan mendekat, duduk di samping Bunda.
    "Hmmm...?"
    "Besok-besok jangan ketinggalan lagi HPnya ya..."
    "Hehehe. Iyaaaaa.... Maafin Bunda yaa..."
    posted by  on 8:56 PM 
    21 Comments:
    Blogger Bunda Renny dan Ayah Raditya said...

    Memang hidup susah tanpa hp, hiks. Hidup hp!!!
    7:47 AM  
    Blogger Ina said...

    Soal ketinggalan HP, emang bikin merana, telepon rumah OK masih bisa diinget, tapi kalau nomer HP....kebanyakan angka kali ya? jadi syusyah banget buat dihafalin.

    Kalau aku, ada kertas berisi notel temen-temen yag aku selipin di dompet. Lumayan bermanfaat juga pas emergency kayak gitu..:))
    8:05 AM  
    Blogger ~ Bunda ShafaHafiz ~ said...

    mba, dr dulu kepikiran beli notes kecil buat isi no2 penting jg, tp kog ya blm kejadian nyalinnya :-(

    emang skr berasa hidup ngga lengkap tanpa bawa HP ya, palagi aku yg HP never switch off, 24 jam ON terus, tidurpun ada hp deket t4 tidur ... huhuhu ini mah resiko kerjaan sih ;-)
    8:43 AM  
    Anonymous ica said...

    bener banget bun hiks serasa gimanaa getoo serasa ada yg hilang pengen balik lg jauh tp klo ngga perlu jd seprti hidup enggan mati pun ta mau hihihi naon coba nya bun.....btw bun eta lucu euy mixerna bs dipake di Indo? hmm wajib dilirik neey
    9:09 AM  
    Anonymous Hany said...

    Ah ada ada sajah dirimuh ituuuu... apalin yak: sembilanpuluh tujuhbelas brapapuluh sekiansekian, hehehhehe.....
    12:35 PM  
    Anonymous Anonymous said...

    ihhh ide bagus buuun, bener nyatat di buku kecil nya..

    eh eta pesanan bi molly, pantyliner apa sehhh? jadi berpikiran yg tidak2 huahahahhaha

    Op
    12:42 PM  
    Blogger Bunda Reva said...

    jaman sekarang emang repot bgt tanpa hp :D
    pelajaran berharga ya nong hehe. perlu ditiru tuh nyatet nomor telpon di buku kecil :)
    12:50 PM  
    Blogger Nana said...

    Bundaaaaaa.....makasih banyak ya bun, maaf nih udah ngerepotin :))basa basi bgt yak!

    halah...karunya teuing eta hp si bunda bisa ketinggalan, tp emang bener sih bun gak ada hp bikin bt, wah...pelajaran juga nih harus punya backup data cie...gaya bener dah ah ngomongnya:))masih mending ketinggalan bun, aku tuh dulu pernah ampe ilang HUAAAA......ampe prustasi dah cari2 data lagi,jd sekarang diketik,di print kecil2 dilipat masuk dompet dah, jd kl ilang masih bisa diprint lagi:) tapi kl komputernya yg ngadat gimana ya:(
    1:37 PM  
    Blogger Esti said...

    Akhirnya balik lagi catat nomer hp/alamat dibuku kecil. Sama dong dengan saya hi hi...Dibelikan organizer (PDA) malah repot, tunyal tunyul huruf-hurufnya koq rasanya lama banget. Cepetan ditulis di buku.
    2:18 PM  
    Blogger Mel said...

    Nong, di Singapore dan beberapa negara lain memang penerangannya gak akan mau ngasih nomer telepon berdasarkan alamat rumah.
    Untuk menghindari stalker sinting kayaknya.

    Justru kalau kita minta berdasarkan nama orangnya malah dikasih.

    Kasian eta Haris sampe ditolak begituh sama penerangan ;))
    Dikira lagi mau stalking awewe kali ya..mau nelpon2 neror begituh :))
    8:11 PM  
    Blogger emaknya iffah said...

    saya..saya..sembilanpuluhenampuluhduapuluhsekiansekian :)
    10:40 PM  
    Blogger hotma said...

    huekekeke.... daku sih ga gitu tergantung ma HP Bun, soalnya jarang nelp orang lain. Jadi kalo Hp ketinggalan cuman suami yg kelimpungan. Kalo temen2 dan handaitaulan biasanya janjian pake YM ajah huekekeke... gratisan euy!
    1:06 PM  
    Blogger sefawkes said...

    bun...sayah teh jugah duluh begituh akhirnya mah punya catetan anu dilipet oge dina dompet...:)
    eta mixer meuni genit euy...
    4:45 PM  
    Blogger BidadarI MungiL said...

    Hallo Buuunnn...wah ayam pop, belum sempet nyobain nih Bun, ada resepnya nggak?
    6:08 PM  
    Blogger Jeng Ungu said...

    walah... hp memang kadank uda lebih dari alat nelpon. hp uda jadi portable info box kita. and bener juga yah Nong, kudu start nulis no2 tlp lage di buku...

    have a great week!!!
    8:14 PM  
    Anonymous rahma said...

    bun..dahku mah pasrah aja..deh kalau ketinggalan HP, no.rumah, abangku dan adik2ku aja yg keinget.., sisanya cuma berharap hari cepat berganti..uuughh!
    1:39 AM  
    Anonymous Anonymous said...

    Kacipta Teh Inong, abi ge sami pernah keatingaleun HP, janten ayeuna mah ngadamel catetan di buku telepon rumah, di kantor dan di tas hehehe secara sok pelupa hehehe.
    Teh nuhun doana nyak.. duh eta mixer meungi pikabitaeun
    10:41 AM  
    Anonymous Dinny said...

    nu diluhur teh abdi heheh
    10:43 AM  
    Anonymous dini said...

    hebat yah si HP.. ketinggalan aja bisa bikin merana. kayaknya mendingan ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP, ya gak? Ketinggalan dompet masih bisa nelepon minta tolong atau apalah... tapi ketinggalan HP... dueengg... bingung setengah mati.. :P

    mana jaman sekarang Hp tuh udah kayak organiser pribadi, ya nomor telepon, alamat, agenda, to do list, list belanjaan... semuaaa deh ada didalemnya
    1:50 PM  
    Blogger stella said...

    Nong,

    kalau aku ketinggalan hp di rumah, yg kasian suamiku, soalnya dia jadi perantara. Tiap ada sms or telp dia lapori ke aku hihihi. Tapi itu kalu pas dia masih di rumah aku ngehnya, kalau dia keburu pergi, ya sud bete aja seharian hehehe.....

    mending ketinggalan dompet, bisa minjem duit. Kalu ketinggalan HP? Percuma minjem juga kalu gak tau nomor yg dituju.
    3:57 PM  
    Blogger Fie said...

    Emang kita dibikin "oon" kalo gak ada hp blank dech ....
    5:43 PM  

    Post a Comment

    << Home




    Daisypath Ticker