About Me

Bunda Zidan & Syifa
Mom with two kids. 32. Tukangjalan. Tukangbelanja. Tukangkue. Tukangroti. Tukangmakan. ;)
YM: inong99
email: inong99@yahoo.com

View my complete profile

Loket Kadeudeuh WSAB
Subscribe with Bloglines

Blog DapurBunda
Blog PuisiBunda

Previous Posts

Archives
Little Break



My Idol 2006


  • Little Chat
    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x
    Credits
    Design by :


    Community

    Photobucket - Video and Image Hosting

    WSAB

    BlogFam Community

    Indonesian Muslim Blogger

    Blogfam Online Magazine

    Image hosted by Photobucket.com

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    IndoSing-Mums


    Powered by Blogger



     Friday, April 30, 2004 
    I N T A N



    "Kue yang Ayah bawa tadi pagi habis, Yah?" tanyaku sambil menyiapkan makan malam untuk suamiku.
    "Habis. Tadi pas selesai meeting Ayah makan bagi dua sama si Intan."



    Intan! Sudah lima kali dalam seminggu ini nama Intan disebut-sebut sama suamiku. Katanya Intan itu karyawan baru di kantornya yang kebetulan duduk persis di sebelah dia. Awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan, tapi lama-lama penasaran juga karena sekarang setiap suamiku cerita tentang kesehariannya di kantor, pasti nama Intan juga dibawa-bawa. Seperti, ngantri di ATM sama Intan, ketemu Intan di lift terus ngobrol panjang lebar, atau pergi ke klien sama Intan, pinjem DVDnya Intan, dan sebagainya.


    Cemburu, sudah pasti. Seisi dunia tahu kalau aku tipe istri pencemburu, tapi aku tidak pernah bisa ‘mengeluarkan’nya, jadi dipendam dalam-dalam saja sendiri, sambil berpikir kata-kata apa yang baik dan tidak memalukan untuk ditanyakan pada suamiku.


    Sabtu sore, seperti biasa aku sedang nonton TV, film kartun kegemaran anak-anakku. Tiba-tiba ada SMS masuk di telepon genggam suamiku, karena si empunya barang sedang sibuk mencuci mobilnya, dia hanya berteriak,
    "Bunda, tolong dibacain dong, dari siapa?" Lalu aku ambil dan aku lihat, o…o… nama Intan terpampang jelas di layar telepon genggam itu.
    "Dari Intan, Yah!" aku masih berusaha santai.
    "Apa katanya?!" Aku baca lagi, tertulis jelas,

    "hari Senin bisa datang lebih pagi kan? Ada yang perlu aku tanyain.. Thx. Intan"

    Setelah aku bacakan di depan suamiku, dia cuma bilang, "Balesin Bun, bilang OK."



    Seharian itu aku tambah gelisah, dan juga bingung karena sikap suamiku santai saja. Tidak ada tanda-tanda yang aneh. Sementara rasa penasaranku makin penuh di kepala.
    "Yah, si Intan itu lulusan mana?" aku coba berbasa-basi sambil menemaninya makan siang.
    "Katanya sih Trisakti. Baru lulus."
    "Hebat juga ya langsung bisa masuk di kantor Ayah."
    "Iya, kelihatan kok anaknya pinter. Cepat mengerti kalau diajarin."
    "Sudah menikah?"
    "Belum."

    Wah, kayaknya aku harus gerak cepat nih, sebelum semuanya terlambat. Tapi aku mesti bilang apa ya ke dia. Nanti kalau tidak ada bukti, dia malah marah, atau malah menertawakan kecemburuanku. Waduh, gimana ya? Lagi-lagi ada perang bathin di dalam hatiku. Rasanya semakin sulit memejamkan mata untuk tidur. Lalu aku berdoa dalam hati, "Ya Allah, semoga Engkau bukakan pintu keluar dari masalahku ini, permudahkanlah aku mendapatkan kebenaran. Amin."


    Minggu pagi, suamiku sedang mandi ketika telepon genggamnya berbunyi.
    "Bunda! Tolong diangkat!" teriaknya dari dalam kamar mandi. Aku yang sedang sibuk memakaikan baju anakku berlari dan mengambil telepon genggamnya di atas meja makan, sempat kulihat nama Intan di layar telepon. Degh! Rasanya jantungku berhenti beberapa saat.
    "Hallo?" sapaku ragu.
    "Selamat pagi, Mbak. Bapak ada?" suara laki-laki sopan di seberang sana.
    "Oh, sedang mandi, Mas. Ini dari siapa biar nanti dia telepon balik?" jawabku seramah mungkin sambil pikiranku terus bertanya-tanya sendiri.
    "Tolong bilang saja ada telepon dari Intan, Mbak. Biar nanti saya yang telepon kembali. Terimakasih." Lalu sambungan telepon dimatikan. Aku cuma mengangguk sambil terus berpikir, kenapa tidak Intannya langsung yang bicara, kenapa harus menyuruh orang lain, kenapa ini, kenapa itu. Ah, sudahlah, tambah bikin pusing saja!

    "Telepon dari siapa, Bun?" tanya suamiku waktu keluar dari kamar mandi. Aku menjawab ragu.
    "Dari Intan. Katanya nanti dia mau telepon balik."
    "Ooh." Cuma itu komentar yang keluar dari mulutnya, lalu dia berjalan ke arah lemari baju. Aku mengernyitkan dahi. Kok santai banget ya, seperti tidak ada apa-apa. Akhirnya aku beranikan diri bertanya pelan-pelan sambil pura-pura merapikan baju di lemari.

    "Yah, tadi Intan yang telepon, tapi laki-laki yang ngomong."
    "Maksudmu?" suamiku bertanya sambil menyisir rambutnya.
    "Maksudku ya kenapa Intan telepon tapi suaranya laki-laki."
    "Lah, ya karena si Intan itu memang laki-laki," ujar suamiku santai sambil ngeloyor ke meja makan menemani anak-anak yang sedang sarapan.
    Hah?! Tambah bingung aku dibuatnya.

    "Jadi dia itu laki-laki? Kok namanya Intan?" Suaraku meninggi, karena bingung campur heran.
    "Ya, nggak tahu. Namanya memang Intan Adhiyaksa. Kenapa?" jawab suamiku sebelum menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.



    Ya ampuuun! Aku jadi geli sendiri! Seminggu ini aku dibuat cemburu, bingung, cemas, gelisah, tidak enak makan, tidak nyenyak tidur, hanya karena seorang Intan! Hahaha! Ingatanku berputar ke awal-awal kecurigaanku, Intan, makan bareng, ngobrol bareng, lulusan Trisakti, pintar, belum menikah, dan lain sebagainya. Oalaaaaaaaaaah….! Intaaaan……!


    InongHaris

    Dimuat di Gado-gado, majalah Femina, edisi April 2004

    posted by  on 8:14 PM 



    Daisypath Ticker